Indonesia merupakan salah satu negara dengan memiliki penduduk mayoritas beragama Islam. Dengan tingginya penduduk mayoritas Islam membuat banyak orang yang mulai tertarik dengan investasi syariah. Salah satu pilihannya adalah dengan pasar modal syariah / sharia capital market yang ikut berkembang dalam beberapa tahun terakhir.

Biar kamu nggak bingung lagi dengan pasar modal syariah, artikel ini akan menjelaskan lengkap berbagai hal yang harus kamu pahami seputar pasar modal syariah.

Baca Juga: Pelajari Dahulu Pengertian Pasar Modal, Biar Kamu Paham Investasi Saham!

1. Apa Itu Pasar Modal Syariah?

pasar modal syariah

Secara sederhana, pasar modal syariah tidak berbeda jauh dengan pasar modal pada umumnya. Pada umumnya sebagai tempat dimana terdapat berbagai instrumen investasi jangka panjang yang diperdagangkan hanya saja pasar modal syariah memiliki sistem yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah islam. 

Tidak berbeda jauh, efek atau surat berharga yang diperdagangkan seperti saham syariah, obligasi syariah, reksa dana syariah dan lainnya. Efek-efek tersebut harus sesuai dengan hukum Islam yang dimana kegiatan transaksi yang dilakukan sesuai dengan syariah, seperti mudarabah, musyarakah, murabahah, dan ijarah.

2. Karakteristik dan Prinsip Pasar Modal Syariah

Karakteristik dan prinsip seperti apa yang membedakan antara pasar modal syariah dengan pasar modal pada umumnya?

a. Investasi Halal

Prinsip dasar yang paling utama adalah “investasi halal”. Kembali pada tujuan awal nya, dibentuk untuk memberikan dan menyediakan alternatif kepada masyarakat yang ingin menggunakan prinsip syariah dalam berinvestasi agar mendapatkan berkah lebih banyak. Walau perlu diingat, shariah capital market tidak hanya terbatas untuk umat muslim saja siapapun dapat ikut serta. 

b. Transaksi Menggunakan Akad sesuai Hukum Islam

Semua transaksi investasi yang ada di sharia capital market harus sesuai dengan prinsip-prinsip syariah yang ada pada hukum Islam. Maka setiap transaksi yang terjadi menggunakan akad yang sudah sah dan sesuai dengan hukum Islam. Transaksi investasi pun menjadi lebih jelas antara kedua belah pihak pembeli maupun penjual dan terhindar dari unsur dharar, gharar, riba, maisir, risywah, maksiat dan kezhaliman

c. Mekanisme yang Jelas dan Wajar

Di dalam pasar modal syariah, mekanisme yang jelas dan wajar menjadi penekanan yang utama juga. Hal ini bertujuan untuk menjaga atau menghindari terjadinya prasangka dalam melakukan transaksi. Dengan adanya prinsip kehati-hatian, mekanisme yang jelas dan wajar, maka diharapkan adanya transparansi dalam bertransaksi.

3. Produk Pasar Modal Syariah

Pasar modal syariah memiliki produk-produk yang sejenis dengan pasar modal pada umumnya. Hanya saja terdapat perbedaan diantara keduanya. Lalu apa saja produk pasar modal syariah itu? berikut penjelasannya.

a. Saham Syariah

Pengertian saham secara umum adalah surat berharga  yang menjadi bukti penyertaan / kepemilikan modal dari individu atau korporasi terhadap sebuah perusahaan berbentuk PT. Sedangkan yang dimaksud dengan saham syariah yaitu saham yang dimiliki oleh perusahaan yang kegiatan bisnisnya tidak bertentangan dengan prinsip syariah. 

Contoh kegiatan bisnis yang dilarang dan tidak termasuk dalam prinsip syariah seperti bisnis minuman keras, hiburan seks, makanan haram, perjudian, riba, jual beli risiko yang mengandung unsur ketidakpastian(gharar) dan/atau judi (maisir), dan lainnya. 

Selai kegiatan bisnis, saham syariah erat kaitannya dengan akad-akad / perjanjian yang sesuai dengan hukum Islam seperti mudharabah, musyarakah, Ijarah, Istisna, Salam.

Jika pada pasar modal umum terdapat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) maka dalam pasar modal syariah terdapat Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) untuk melihat rata-rata pergerakan harga saham yang tergolong sesuai dengan prinsip syariah yanga ada pada Bursa Efek Indonesia.

b. Obligasi Syariah (Sukuk)

Pengertian obligasi syariah / sukuk adalah tidak jauh beda dengan obligasi konvensional, sukuk ini dapat diterbitkan oleh pemerintah ataupun perusahaan (korporasi) yang dimana merupakan cerminan kepemilikan aset berwujud yang disewakan atau akan disewakan dan bukan berupa surat utang.  

Bagi pihak yang menerbitkan sukuk (penerbit), maka ada kewajiban bagi penerbit tersebut untuk membayarkan pendapatan bagi hasil (margin/fee) kepada pemegang saham. Penerbit sukuk dalam hal ini bisa pemerintah, atau perusahaan baik BUMN maupun swasta.

Jenis sukuk berdasarkan Standar Syariah AAOIFI No.17 tentang Investment Sukuk, terdiri dari : Sertifikat kepemilikan dalam aset yang disewakan, Sertifikat kepemilikan atas manfaat, Sertifikat salam, Sertifikat istishna, Sertifikat murabahah, Sertifikat musyarakah, Sertifikat muzara’a, Sertifikat musaqa, Sertifikat mugharasa.

c. Reksa Dana Syariah

Reksa dana syariah adalah produk yang berupa wadah yang dimana menghimpun dana dari berbagai pemodal baik individu maupun perusahaan yang dijadikan satu kemudian dikelola dengan cara menginvestasikan dana tersebut ke berbagai surat berharga yang sesuai dengan prinsip syariah oleh manajer investasi. Surat berharga tersebut bisa berupa saham syariah atau obligasi syariah.

Reksa Dana Syariah dikenal pertama kali di Indonesia pada tahun 1997 ditandai dengan penerbitan Reksa Dana Syariah Danareksa Saham pada bulan Juli 1997. Mekanisme reksa dana syariah sama seperti reksa dana pada umumnya yang hanya membedakan adalah isi dari portofolio, akad serta pembentukan portofolio tidak bertentangan dengan prinsip syariah yang sudah diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun DSN MUI. 

4. Transaksi yang Dilarang dalam Pasar Modal Syariah

Penerapan prinsip syariah secara utuh dan lengkap dalam kegiatan di perdagangan, harus berdasarkan pada landasan-landasan yang sesuai dengan ajaran Islam. 

DSN MUI mengeluarkan fatwa Nomor: 40/DSN-MUI/X/2003 Tentang Pasar Modal dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah di Bidang Pasar Modal menyatakan bahwa yang dimaksud dengan transaksi/perdagangan efek yang dilarang ialah:

a. Pelaksanaan transaksi harus dilakukan menurut prinsip kehati-hatian serta tidak diperbolehkan melakukan spekulasi dan manipulasi yang di dalamnya mengandung unsur dharar, gharar, riba, maisir, risywah, maksiat dan kezhaliman.

b. Transaksi yang mengandung unsur dharar, gharar, riba, maisir, risywah, maksiat dan kezhaliman sebagaimana dimaksud pada ayat diatas meliputi: 

  • Najsy, yaitu melakukan penawaran palsu.
  • Bai’ al-ma’dum, yaitu melakukan penjualan atas barang (efek syariah) yang belum dimiliki (short selling).
  • Insider trading, yaitu memakai informasi orang dalam untuk memperoleh keuntungan atas transaksi yang dilarang.
  • Menampilkan informasi yang menyesatkan.
  • Margin trading, yaitu melakukan transaksi atas efek syariah dengan fasilitas pinjaman berbasis bunga atas kewajiban penyelesaian pembelian efek syariah tersebut.
  • Ihtikar (penimbunan), yaitu melakukan pembelian atau pengumpulan suatu efek syariah untuk menyebabkan perubahan harga efek syariah, dengan tujuan mempengaruhi pihak lain;

Semoga penjelasan diatas bisa menambahkan wawasanmu mengenai sharia capital market. Jangan ragu untuk mulai investasi pertama mu dimulai dari sekarang ya!