Skip to content

6 Hari IHSG Turun Berturut-Turut, Apa Saja Penyebabnya?

6 Hari IHSG Turun

Beberapa bulan terakhir semua sosial media yang saya punya diwarnai dengan berbagai postingan screenshot dari aplikasi mobile trading saham online yang dimiliki banyak orang-orang sambil memamerkan keuntungan dari pembelian saham mereka. Kondisi ini menimbulkan pro dan kontra bagaimana perilaku banyak orang yang mayoritas Gen Y dan Gen Z sedang menikmati market saham fase uptrend. Tapi tidak dalam 6 hari terakhir karena Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sedang turun berturut-turut tanpa henti.

Kini mayoritas orang mulai kalem di sosial media tidak se-garang awal-awal mereka menikmati fase uptrend market. Bagi saya sendiri fase uptrend dan downtrend adalah hal yang sangat lumrah yang ada pada pasar saham. Karena dalam 5 hari IHSG Turun membuat saya penasaran. 

Apa ya penyebabnya tiba-tiba market menjadi berbalik arah seperti ini?

Baca Juga: Mengenal Obligasi Ritel Indonesia (ORI), Investasi Minim Risiko Dijamin Pemerintah

1. IHSG Sudah Cukup Naik Tinggi

Sumber: stockbit.com

Sejak awal tahun 2020 lalu, pasar saham Indonesia sudah diwarnai dengan berita perang dagang Amerika dan China yang kian memanas. Jika dilihat dari candlestick, maka menunjukkan kondisi market yang sedang was-was terhadap kondisi saat ini. Pergerakannya sangat terbatas dan cenderung sideways dan tidak menarik bagi para investor.

Bulan Maret tahun 2020, pasar saham dikejutkan dengan berita virus corona yang mulai menyebar ke seluruh penjuru dunia sampai akhirnya secara resmi masuk ke Indonesia dan membuat panik banyak orang untuk membeli masker. Ditambah mulai diterapkannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta langsung disambut panic selling terjadi di pasar saham sehingga BEI mulai menerapkan pembatasan Auto Reject Bawah sebesar 7% kepada semua saham.

Tak berlangsung lama, pasar saham mulai diburu para investor karena IHSG sudah mencapai level 3.800 yang dimana menunjukkan bahwa sejak awal tahun 2020 IHSG mengalami penurunan hingga 38%. Kondisi itu tak berlangsung lama sampai dimana membuat saham-saham bluechip terdiskon dengan harga yang sangat sangat murah jika dibandingkan saat kondisi market normal. 

Dari level dibawah 4.000 terus mengalami kenaikan hingga menyentuh level tertinggi level 6.500 sebesar 60%. Kenaikan yang cukup fantastis hanya dalam hampir 10 bulan saja!. Jadi wajarkan kalau IHSG saat ini sudah seharusnya istirahat sejenak dari kenaikannya yang terus menerus.

2. PPKM diperpanjang, investor merespon negatif kebijakan ini

Daftar Daerah yang Terapkan PPKM Jawa-Bali
Sumber: Suara.com

PPKM merupakan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat yang diadakan di seluruh Jawa hingga Bali. Peraturan ini dibuat untuk membatasi kegiatan masyarakat agar sebaran virus covid 19 tidak semakin banyak menginfeksi orang. Nah, peraturan ini sudah sempat diadakan sebelumnya dan kembali diperpanjang mulai 26 Januari hingga 8 Februari 2021.

Perpanjangan aturan pembatasan kegiatan ini direspon negatif oleh para investor karena akan menghambat aktivitas ekonomi yang bisa berdampak pada kinerja perusahaan-perusahaan. Alhasil, para investor mulai melakukan aksi jual saham di market dan ini menjadi sentimen negatif.

3. Kasus infeksi virus covid 19 telah tembus 1 Juta di Indonesia!

Sumber: google.com

Sejak 26 Januari lalu, Indonesia telah mencatatkan total kasus virus covid 19 ini hingga mencapai 1 juta. Ini bukan angka yang sedikit untuk kondisi pandemi seperti saat ini. Semakin hari jumlah kasus harian juga semakin tinggi. Walaupun Indonesia sudah mulai dengan melakukan vaksin kepada presiden dan masyarakat sejak 13 Januari 2021 tetapi itu bukan menjadi sentimen positif dikala jumlah kasus semakin banyak setiap harinya.

Para investor mulai khawatir bagaimana kondisi perkembangan virus corona di Indonesia. Bagaimanapun virus corona ini menjadi penghambat aktivitas ekonomi di Indonesia apalagi saat ini Indonesia masih mengalami masa resesi. Kondisi ini dapat mempengaruhi perkembangan ekonomi Indonesia kedepannya. 

4. Perang dagang Amerika dan China kembali memanas

Masih ingat dengan perang dagang antara Amerika dan China sejak tahun 2018 lalu? Perang dagang tersebut menyebabkan sentimen negatif di bursa saham dunia tak terkecuali Indonesia. Nampaknya isu perang dagang sempat terhenti akibat mulai terjadinya gencatan senjata dalam kesepakatan dagang dalam dua negara tersebut. Tak hanya itu, sejak virus corona merebak ke segala penjuru dunia dan setiap negara berfokus pada mengamankan masyarakat masing-masing dari ganasnya virus ini sehingga kedua negara tidak sempat untuk mengurus perang dagang kembali.

Di awal tahun 2021, perang dagang lalu sempat mencuat kembali ke permukaan dengan melihat presiden Amerika Serikat Joe Biden membuat kebijakan politik luar negeri yang lebih tegas kepada China. Para investor pun mulai cemas apakah perang dagang lalu akan kembali terulang dan semakin parah karena kebijakan yang dibuat oleh Joe Biden dapat mempengaruhi hubungan dagang ke dua negara.

Bagaimana IHSG Kedepannya?

Setelah 6 hari IHSG turun berturut-turut, kedepannya masih dibayangi oleh sentimen negatif terkait virus corona dan perang dagang Amerika dengan China. Beberapa saham yang sedang naik daun seperti KAEF, ANTM, BRIS, INAF nampaknya terus mengalami tekanan jual tanpa henti dari para investor. Memang kondisi ini makin memperparah penurunan IHSG. Untuk para investor bisa melakukan wait and see terlebih dahulu sembari mencari peluang pada sektor-sektor lain seperti banking.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *