#BookReview : Sabbatical Karya Agung Setiyo Wibowo

Sumber: Dokumen Pribadi

Pernah ngerasa hidupmu mulai jenuh dan terjebak pada rutinitas yang membosankan? Mungkin itu juga dirasakan oleh banyak orang yang memasuki usia-usia seperempat abad seperti halnya diriku. Rutinitas pekerjaan yang kerap menyita waktu kita setiap hari membuat sebagian dari kita mulai mengeluh.

Apakah kamu juga begitu? Jika kamu merasa maka kamu tidak sendirian. Dengan aktifitas pekerjaan yang selalu berulang dan membosankan seakan-akan membuat diri kita ingin beristirahat sejenak. Tidak hanya satu dua hari tetapi dalam jangka waktu yang cukup lama untuk keluar dari rutinitas yang membosankan itu.

Terjebak pada rutinitas yang membosankan kerap kali menjadi alasan sebagian orang untuk tidak membuat dirinya berkembang lebih baik. Bahkan, lebih parahnya selalu mengeluh dan menyalahkan keadaan yang tidak sesuai dengan harapan yang diinginkan.

Ngomong-ngomong soal terjebak rutinitas yang membosankan, aku pernah mendengar pengalaman seorang teman yang sangat berani megambil tindakan untuk keluar dari rutinitas tersebut dengan jangka waktu yang cukup lama hingga setahun.

Setahun? Yes.. benar.

“emang ngapain aja selama setahun” tanyamu yang masih penasaran.

Penasaran siapa dia?

Dia adalah Mas Agung Setiyo, sosok yang aku kenal yang sangat aktif dalam dunia menulis dan pengembangan diri. Selama setahun keluar dari rutinitas sehari-hari ditengah hiruk pikuk ibukota, dia berani mengambil langkah untuk melakukan Sabbatical.

Kemudian, dia rangkum pengalamannya menjadi sebuah buku dengan ketebalan 273 halaman. Pada buku tersebut dijelaskan dengan gamblang dan detail kepada pembaca mengenai “Sabbatical” dan apa saja yang dia lakukan selama masa tersebut.

Dari tadi udah ngomongin sabbatical melulu. Emang apa itu sabbatical?

Kalau dikamus, sabbatical diartikan sebagai cuti panjang atau istilah bekennya “career break”. Mengambil jeda dalam kehidupanmu dalam waktu yang panjang.

Tapi perlu diketahui, sabbatical akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk melakukan banyak hal. Seperti yang dilakukan oleh penulis seperti travelling, networking, reading, family gathering, volunteering dan segudang aktifitas yang bisa kamu lakukan.

Buku ini terdiri dari berbagai part-part cerita penulis yang dipadukan dengan pengalamannya serta gaya penulisan yang sederhana dan mudah dipahami. Di bagian awal buku ini menceritakan apa saja yang dilakukan oleh penulis dan bagaimana cara untuk menjalani sabbatical ini.

Lalu dilanjutkan dengan part-part cerita yang lebih menginspirasi. Dari puluhan part yang ada di buku ini ada dua yang mencuri perhatian saya dan sekaligus menjadi part terfavorit dalam buku ini.

Apa itu?

“Hidup Adalah Pilihan” dan “Mengapa Galau Itu Penting”

Di part cerita hidup adalah pilihan ini si penulis menceritakan bagaimana perjalanan dia memuat berbagai pilihan penting dalam hidupnya. Pada akhirnya semua pilihan yang ada saat ini adalah hasil kerja keras yang udah kita lakukan selama ini.

Dengan membaca part tersebut membuatku berhenti sejenak untuk merenung atas semua pilihan yang udah aku perbuat selama ini. Sebuah pilihan yang mengantarkanku pada perjalanan hidup yang mengalami fase naik dan turun.

Pada part mengapa galau itu penting membuatku lebih banyak refleksi diri dengan deretan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang membuatku pusing tujuh keliling untuk menjawabnya.

Secara keseluruhan buku ini sangat bagus dari isi dan penyampaian pesannya hanya kurang pada visualisasinya bahkan terasa membosankan untuk buku dengan ketebalan diatas 200 halaman. Jadi butuh effort untuk menyelesaikannya.

Diluar itu semua, buku ini wajib kamu baca buat yang ingin menjalani sabbatical atau butuh asupan motivasi-motivasi yang sangat lengkap sesuai dengan pengalaman yang dituliskan oleh penulis.

Kalau kamu udah baca buku ini, silahkan share juga ya part mana yang paling kamu suka dikolom komentar dibawah ini 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *