Perkembangan Fintech P2P Lending di Indonesia

Sejak akhir tahun 2016 lalu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan aturan resmi yang dituangkan pada POJK nomor 77/POJK.01/2016 seperti yang sudah saya bahas disini. Aturan resmi ini menjadi angin segar untuk para pelaku startup yang berfokus mengembangkan layanan jasa peer to peer lending(P2PL) di Indonesia.

Sebelum jauh membahas perkembangan fintech dengan layanan P2PL saat ini, saya akan sedikit membahas kembali apa itu P2PL. Fintech dengan jenis layanan tersebut memberikan kemudahan dengan menghadirkan platform untuk bertemunya pihak yang kelebihan dana (lender) dan pihak yang membutuhkan dana (borrower).

Sederhananya begini, pihak lender memberikan pinjaman kepada pihak borrower dan kemudian dengan kesepakatan diawal pihak borrower akan mengembalikan uang pinjaman tersebut beserta return dalam suatu periode waktu tertentu kepada pihak lender.

Simpel bukan?

Salah satu manfaat yang ditawarkan oleh layanan P2PL ini adalah baik pihak lender atau borrower dapat mengakses langsung layanan tersebut dari gadget nya masing-masing gak perlu repot-repot harus beranjak keluar untuk pergi ke Bank apalagi harus mengantri berjam-jam.

Sumber : OJK

Berdasarkan gambar diatas dapat dilihat perkembangan nominal jumlah pinjaman yang disalurkan oleh entitas bisnis yang mengembangkan layanan P2PL ini. Sejak Januari hingga September total jumlah pinjaman terus mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

Nominal pinjaman terbesar ada di bulan September yaitu sebesar 13,8 Trilliun atau mengalami kenaikan sebesar 400% sejak bulan Januari. Angka yang sangat besar ini mengingat perkembangan industri fintech khususnya P2PL ini masih sangat baru bahkan mendapatkan lampu hijau oleh OJK pun masih dalam dua tahun terakhir. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa layanan P2PL mulai mendapatkan kepercayaan besar di kalangan masyarakat Indonesia.

Jumlah nominal pinjaman yang terus naik dari waktu ke waktu memunculkan satu pertanyaan baru. Bagaimana dengan rasio pinjaman macet dari total transaksi tersebut?

Sumber : OJK

Dari data diatas dapat dilihat bahwa rasio pinjaman macet setiap bulan atau yang sering dikenal sebagai non-performing loan (NPL). NPL ini mencatatkan rasio pinjaman macet untuk pinjaman lebih dari 90 hari. Setiap bulannya, NPL semua entitas bisnis wajib dilaporkan kepada OJK. Walaupun setiap bulannya mengalami fluktuatif kenaikan dan penurunan rasio yag tinggi disebabkan karena setiap bulannya selalu bertambahnya entitas bisnis yang baru terdaftar di OJK

Ini membuktikan bahwa aktifitas pinjam meminjam melalui online masih dibatas aman dan masih sesuai dengan standar dari OJK yaitu dibawah 2%. Rasio ini dapat menunjukkan bahwa layanan P2PL saat ini masih dalam kategori aman dan dapat menjadi alternatif masyarakat untuk menggunakan layanan tersebut.

Semua transaksi yang ada hingga saat ini tidak lepas dari peran-peran entitas bisnis yang terus memberikan layanan terbaik dan kemudahan bagi masyarakat. Hingga saat ini entitas bisnis yang sudah terdaftar dan diawasi oleh OJK sebanyak 67 entitas. Salah satu entitas yang terpercaya untuk dapat kita gunakan layanan P2PL ini adalah p2p.cashwagon.id

Cashwagon adalah salah satu entitas terpercaya dengan berbagai layanan kemudahan akses yang diberikan. Pemberian pinjaman dapat dilakukan dengan nominal terkecil adalah 500 ribu dengan tenor sepuluh hari.

Dengan perkembangan industri fintech khususnya P2PL yang semakin terpercaya menyalurkan uang antara lender dan borrower serta dapat memberikan banyak pilihan bagi masyarakat dalam mengakses pinjaman maka kedepannya industri ini akan terus bertumbuh dan berkembang cepat.

Apakah kamu sudah pernah mencoba layanan P2PL ini? Bagaimana pendapatmu? Yuk berbagi pengalaman di kolom komentar 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *