Kinerja Portofolio Investasi Juni 2018

Berakhirnya Era Suku Bunga Rendah

Sejak tahun 2014, Bank Indonesia secara perlahan terus melakukan penurunan BI Rate atau saat ini dikenal dengan istilah BI 7-day (Reverse) Repo Rate. Sempat menyentuh rate tertinggi pada 7.75% sampai akhirnya terus melakukan penurunan suku bunga hingga 4.25% pada September 2017. Penurunan suku bunga ini memberikan stimulus untuk perekonomian Indonesia dengan suku bunga rendah maka diharapkan suku bunga kredit pinjaman akan melakukan penyesuaian ke level yang lebih rendah.

Penurunan tersebut memberikan sentiment positif untuk dunia usaha sehingga kredit dengan bunga rendah akan memicu pertumbuhan dunia usaha yang akan memberikan efek positif bagi perekonomian Indonesia. Setelah hampir empat tahun berlalu dengan terus melakukan penurunan suku bunga hingga pada akhirnya Bank Indonesia kembali membuat kebijakan untuk menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali dalam kurun waktu yang singkat pada bulan Mei dan Juni 2018.

Kenapa suku bunga harus dinaikkan?

Bank Indonesia melakukan keputusan ini sebagai tindakan untuk melakukan pengereman outflow dana asing yang terus menerus terjadi pada beberapa bulan terakhir. Keluarnya dana asing secara terus-menerus bukan tanpa sebab. Penyebab utamanya adalah Amerika Serikat (AS) mengeluarkan kebijakan untuk menaikkan suku bunganya hingga dua kali dari perkiraan tiga kali sepanjang tahun 2018.

Kenaikan suku bunga The Fed ini akan menyebabkan investasi di AS lebih menarik daripada negara-negara lainnya sehingga diharapkan banyak capital inflow yang masuk tetapi di sisi lain akan membuat capital outflow besar-besaran di berbagai negara. Kebijakan menaikkan suku bunga ini juga dipicu dengan semakin membaiknya perekonomian AS. Tidak hanya capital outflow saja yang membuat waspada , nilai mata uang Dollar semakin lama semakin menguat dikarenakan permintaan dollar saat ini mengalami kenaikan sehingga menyebabkan terdepresiasi nilai mata uang negara lain khususnya Indonesia.

Sepanjang tahun 2018 ini saja, rupiah terus mencatatkan rekor penurunan harga rupiah terhadap dollar hingga mencapai Rp 14.400. Penurunan rupiah ini akan memberikan multiplier effect negatif kepada Indonesia. Terutama bagi perusahaan-perusahaan yang mencatatkan hutang dalam dollar dan juga bisnis utamanya ketergantungan dengan impor. Dengan semakin melemahnya rupiah terhadap dollar sehingga tentu saja Bank Indonesia segera mengambil langkah-langkah untuk menyelematkan perekonomian Indonesia saat ini.

Tidak hanya itu saja, saat ini AS sedang melakukan perang dagang ke Cina. Pemberlakuan tarif impor pada produk-produk Cina yang sebelumnya tidak pernah dilakukan membuat negara Cina geram. Pasalnya, Cina harus mengeluarkan biaya lebih banyak untuk produk ekspor ke AS yang akan membuat neraca perdagangan terganggu. Dari berita yang beredar saat ini, Cina sedang bersiap melakukan perlawan terhadap produk-produk impor dari AS.

Kedua negara tersebut akan berusaha melakukan balas-balasan untuk saling melindungi produk ekspornya masing-masing. Saling balas ini menyebabkan terjadi kekhawatiran pada perekonomian global. Karena AS tidak hanya memberlakukan tarif produk impor ke Cina saja dan mulai mengkaji tarif produk impor untuk negara-negara lainnya termasuk Indonesia. Ketika mulai terjadi kekhawatiran terhadap perang dagang ini, akan membuat dunia bisnis semakin tidak pasti.

Apakah ada dampak bagi IHSG?

Sejauh ini, dampak perang dagang  membuat kekhawatiran baik investor lokal dan asing terhadap pertumbuhan ekonomi negara termasuk Indonesia. Secara year-to-date Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah mencatatkan penurunan sebesar -10.4%. Penurunan yang cukup dalam mengingat IHSG pada tahun 2017 mengalami kenaikan sebesar 20%. Banyaknya sentimen negatif pada IHSG juga mebuat portofolio DF Investama mengalami penurunan kinerja.

Jika dibandingkan dengan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) sejak awal tahun, kinerja portofolio DF Investama masih mencatatkan kinerja diatas rata-rata ISSI. Walaupun dalam beberapa bulan mengalami penurunan yang cukup dalam karena tidak terlepas oleh sentimen IHSG yang sedang mengalami penurunan juga.

Sharia Investment Portfolio (8 Juli 2018)

Bobot portofolio investasi DF Investama saat ini tergambarkan seperti pada tabel diatas. Porsi bobot asset terbesar kami ada pada sektor mining, kedua manufactur dan ketiga adalah properti. Kami akan terus berusaha untuk mencari saham-saham yang sedang memasuki radar undervalue mengingat market sudah turun cukup dalam. Sedikit demi sedikit kami terus mengakumulasi saham yang ada di portofolio saat ini atau menambah investasi saham baru lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *